
Aku menyisiri tepian kaki pegunungan
pada suatu pagi saat mentari bersiap pergi
kaki-kaki tak henti tertampar ilalang basah
yang dikhianati embun pagi hari...
Di bawah kaki ufuk timur yang di selimuti kabut
rinduku selalu berpulang di pegunungan...
pada lelah yang tak jua meninggi maupun merendah
melarikan diri dari keterasingan...
Kubawa rinduku pada kekosongan hati
terbungkus ramah senyum penduduk desa
menyuguhkan secangkir hangat pengharapan
Di ujung keterasingan telah kutemukan
berjuta mimpi yang tersembunyi...
tertutupi keangkuhan hati...
sedangkan kaki tak pernah berhenti melangkah
dan hati tak lagi bisa bernyanyi...
Di tepian lembah kurebahkan lelah...
pada batas kejenuhan telah kuceritakan
perputaran waktu selalu menunggu...
menunggu kehadiran laskar-laskar rimba
mengantarkan pengharapan di puncak pegunungan
Namun mampukah kita kalahkan...
keangkuhan hati... seolah bumi hanyalah mimpi?
hiporia yang kian nyata... menundukkan hati
yang kian mengabur terbasuh kabut pagi
Namun cermin-cermin keangkuhan hati itu
kuhempaskan di sini...
ketika rinduku berpulang di "Tiung Kandang"
manghapus dahaga di batas cakrawala
saat kureguk secangkir hangat kerapuhan
author : eco "cadas"
pada suatu pagi saat mentari bersiap pergi
kaki-kaki tak henti tertampar ilalang basah
yang dikhianati embun pagi hari...
Di bawah kaki ufuk timur yang di selimuti kabut
rinduku selalu berpulang di pegunungan...
pada lelah yang tak jua meninggi maupun merendah
melarikan diri dari keterasingan...
Kubawa rinduku pada kekosongan hati
terbungkus ramah senyum penduduk desa
menyuguhkan secangkir hangat pengharapan
Di ujung keterasingan telah kutemukan
berjuta mimpi yang tersembunyi...
tertutupi keangkuhan hati...
sedangkan kaki tak pernah berhenti melangkah
dan hati tak lagi bisa bernyanyi...
Di tepian lembah kurebahkan lelah...
pada batas kejenuhan telah kuceritakan
perputaran waktu selalu menunggu...
menunggu kehadiran laskar-laskar rimba
mengantarkan pengharapan di puncak pegunungan
Namun mampukah kita kalahkan...
keangkuhan hati... seolah bumi hanyalah mimpi?
hiporia yang kian nyata... menundukkan hati
yang kian mengabur terbasuh kabut pagi
Namun cermin-cermin keangkuhan hati itu
kuhempaskan di sini...
ketika rinduku berpulang di "Tiung Kandang"
manghapus dahaga di batas cakrawala
saat kureguk secangkir hangat kerapuhan
author : eco "cadas"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar